Cara Menghitung Royalti Franchise F&B untuk Kemitraan (Royalty Fee)
Anda memiliki kedai ayam geprek atau coffee shop yang sukses besar dan antreannya mengular. Tiba-tiba, ada investor yang menawarkan, "Bro, boleh saya beli franchise-nya untuk buka cabang di kota lain?"
Mewaralabakan (franchising) bisnis adalah jalan ninja untuk mendominasi pasar tanpa harus mengeluarkan modal miliaran untuk ekspansi. Dalam sistem franchise profesional, Pemilik Merek (Franchisor) biasanya mendapatkan dua jenis pembayaran utama dari Mitra (Franchisee):
- Franchise Fee (Biaya Awal): Uang putus yang dibayar di depan untuk hak penggunaan merek selama X tahun, SOP, dan pelatihan awal.
- Royalty Fee (Royalti Berjalan): Uang iuran bulanan yang harus disetor mitra selama bisnis tersebut beroperasi.
Pertanyaannya, berapa persen Royalty Fee yang adil? Jika terlalu kecil, Anda (Franchisor) rugi waktu mengurus support cabang mereka. Jika terlalu besar, Mitra (Franchisee) akan tercekik dan gulung tikar.
Apa Tujuan Sebenarnya dari Royalty Fee?
Pahami dulu bahwa Royalty Fee BUKAN sekadar "pajak preman" untuk memperkaya owner merek. Dana royalti ini seharusnya digunakan kembali oleh Franchisor untuk:
- Membayar tim audit (Quality Control) yang rutin mengunjungi cabang mitra.
- Biaya riset (R&D) untuk menciptakan menu baru yang akan dijual di seluruh cabang.
- Dana pemasaran pusat (National Marketing Campaign) seperti pasang billboard atau menyewa artis/influencer besar yang dampaknya dirasakan seluruh mitra.
3 Model Perhitungan Royalty Fee di Indonesia
1. Persentase dari Omzet Kotor (Gross Sales Percentage)
Ini adalah sistem paling umum yang digunakan oleh franchise besar dunia (seperti McDonald's, KFC, Mixue).
- Besaran: Biasanya berkisar 3% hingga 6% dari total Penjualan Kotor (Gross Sales) setiap bulan, sebelum dikurangi diskon, HPP, atau biaya sewa.
- Kelebihan: Sangat transparan dan mudah dihitung. Franchisor otomatis mendapat pemasukan lebih besar jika cabang sukses besar.
- Kelemahan: Mitra sering protes. "Omzet saya 100 juta, tapi profit saya minus karena bulan ini bayar perbaikan AC. Kok pusat tetap minta jatah 5% (5 juta)?" (Royalti dihitung dari omzet, bukan laba bersih).
2. Biaya Tetap Bulanan (Flat Fee)
Sering dipakai oleh franchise lokal skala kecil-menengah (Booth minuman, gorengan) yang tidak memiliki sistem audit omzet yang ketat.
- Besaran: Ditetapkan nominal pasti. Misal: Rp 1.000.000 per bulan, tidak peduli apakah cabang tersebut laku keras atau sedang sepi.
- Kelebihan: Sangat disukai Mitra karena angkanya pasti. Bagi pusat, mempermudah proyeksi cashflow bulanan dan tidak perlu pusing mengaudit struk kasir mitra.
- Kelemahan: Franchisor gigit jari jika cabang tersebut omzetnya meledak ratusan juta, karena jatah royaltinya stuck di angka Rp 1 juta.
3. Royalti Tersembunyi pada Pembelian Bahan Baku (Markup Margin)
Ini adalah "jalan ninja" yang paling digemari franchise kuliner lokal saat ini. Franchisor menetapkan syarat: TIDAK ADA Royalty Fee bulanan (0%). Terdengar sangat menarik bagi mitra, bukan?
- Namun syaratnya, seluruh bahan baku inti (Bubuk kopi, saus rahasia, kemasan sablon) WAJIB dibeli secara eksklusif dari Franchisor (Pusat).
- Franchisor mengambil "Royalti" secara diam-diam dengan me-markup harga jual bahan baku tersebut (misal menaikkan margin 20% dari harga pabrik) sebelum disuplai ke cabang.
- Sistem ini menjamin kualitas rasa sama di semua cabang, sekaligus mengunci profit untuk pusat!
Kesimpulan: Jangan Mudah Dibohongi Cabang!
Masalah terbesar menggunakan sistem "Persentase Omzet" adalah kebohongan pelaporan. Mitra cabang yang licik sering kali memanipulasi pembukuan (mengurangi jumlah struk penjualan) agar setoran royalti mereka ke pusat menjadi lebih kecil.
Solusi mutlak bagi Franchisor adalah mewajibkan penggunaan 1 Aplikasi Kasir Tersentralisasi di seluruh cabang. Dengan Sobat Kasir, Anda (Pemilik Pusat) dapat memantau pergerakan penjualan puluhan cabang franchise secara real-time lewat satu dashboard Owner. Jika laporannya tercatat rapi di server cloud Anda, tidak ada lagi ruang untuk kecurangan manipulasi omzet!
Tim Edukasi UMKM
Sobat Kasir F&B Experts